SNOW CRYSTAL
Pada jaman dahulu kala, ada sebuah kerajaan terpencil di tengah hutan. Kerajaan itu terletak di dekat desa kecil yang damai. Kerajaan ini diperintah oleh raja dan ratu yang baik hati
3 TAHUN KEMUDIAN
Sang ratu melahirkan seorang putri seputih salju. Sang raja dan ratu merawatnya dengan penuh kasih sayang. Setelah putri kecil yang diberi nama Cayleen itu berumur 1 tahun. Keesokan harinya kerajaan yang damai itu pun hancur akibat perang dari kerajaan lain. Sehingga raja dan ratu beserta pengawal kerajaan dan tidak lupa warga desa itu pun ikut hancur. Lalu, bagaimana dengan Putri Cayleen? Apakah dia selamat?
Dalam situasi yang menegangkan saat perang itu berlangsung, Putri Cayleen telah diselamatkan oleh pelayan kerajaan bernama Manie. Setelah sampai di hutan, Manie telah tertembak oleh salah satu tentara peperangan itu."Putri Cayleen...se...selamatkan diri...mu...", kata Manie sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Tiba-tiba, seekor singa melihat kejadian itu, dan segera mengangkat Putri Cayleen ke dalam hutan.
14 TAHUN KEMUDIAN
Putri Cayleen berumur 14 tahun.
"Ibu...ibu...lihat, aku dapat ikan", kata Cayleen.
"Ya...bagus itu, kamu sudah besar ya nak", kata sang ibu yaitu si singa yang mungut Cayleen dulu.
"He...he...iya. Oh iya, bagaimana keadaan ibu? Apa ibu sudah tidak sakit lagi?", tanya Cayleen.
"Uhuk...huk...mungkin sebentar lagi ibu akan sembuh, jangan khawatir ya", jawab sang ibu singa yang juga bisa berbatuk-batuk. "Cayleen, ibu akan memberitahu masa lalumu sekarang"
Mata Cayleen melebar "Ou...oh...apa itu??"
"Cayleen sebenarnya kamu ini seorang putri kerajaan yang ibu ceritakan sudah hancur itu. Lalu, ketika ibu mencari makan, seorang gadis membawa kamu ke hutan. Kemudian, gadis itu tertembak dan meninggal. Karena ibu sempat melihat kejadian itu, ibu segera membawa kamu ke hutan supaya aman. Cayleen, apa kamu marah dengan ibu?", tanya sang ibu singa seperti merasa bersalah.
"Eh...untuk apa aku marah? Jadi, aku putri ya? Kukira selama ini aku laki-laki he...he..."
"Kamu itu perempuan, memangnya ibu gak pernah mengajarkan kamu ya?", tanya ibu singa.
"E...belum tuh..., terserah lah kalau aku laki-laki atau perempuan.", jawab Cayleen penuh semangat.
"UHUK...UHUK..."
"Ah...ada apa ibu?", tanya Cayleen khawatir.
"Mungkin ibu uhuk...akan pergi...jadi, ini pesan terakhir ibu...uhuk...kamu harus pergi ke Negeri Reekin...cari kristal salju untuk menghilangkan penyakit di hutan ini", perintah ibu singa.
"IBU...JADI, SEMUA HEWAN DISINI TERKENA PENYAKIT YANG HANYA BISA DIHILANGKAN OLEH KRISTAL SALJU ITU??", teriak Cayleen.
"Iya...uhuk...", jawab ibu singa dan menutup matanya.
"Hik...hik...kenapa ibu gak pernah bilang padaku hik...", Cayleen menangis tapi dia segera bangkit "Tidak, aku tidak boleh menangis, aku harus segera menemukan kristal salju itu"
Cayleen segera membawa barang-barang yang dibutuhkan dan pamit dengan hewan-hewan yang masih selamat dari penyakit itu.
"Semuanya aku pamit dulu", kata Cayleen.
Di perjalanan, Cayleen sudah sampai ke kota.
"Ooh...jadi ini yang namanya kota, mmm...tapi kalau jalan-jalan pakai baju daun ini selalu dilihat orang. Baiklah, aku akan mengambil baju-baju orang di kota ini sama seperti di hutan aku mengambil daun sebagai baju", kata Cayleen polos.
Dengan hati-hati, Cayleen masuk ke dalam sebuah apartemen di lantai 3 kamar 302. Diam-diam dia lewat jendela dan mengambil baju dan celana, karena di kamar situ gak ada rok.
"He...he...baju ini ternyata cocok dengan image ku", kata Cayleen sambil bercermin.
Tiba-tiba, bunyi kunci terbuka KLEK.
Seorang pria dengan memakai seragam sekolah memasuki apartemen dan melihat orang asing memakai baju miliknya terkejut.
"MA...MALIIING..."
"KYAAA..."
Cayleen segera membungkam mulut pemuda itu dengan gumpalan tisu NI*E
"Ssst...diam! Berisik banget sih"
Pemuda itu menarik tisu yang bergumpal-gumpal itu dari mulutnya "Puueeh....puueeh...iyakh lengket di lidah nih tisunya"
Cayleen kebingungan dengan tingkah laku pemuda itu. Dan akhirnya Cayleen menanyakan nama pemuda itu "Hei, namamu siapa?"
"Hanggil haja akhu John"
"Kalau begitu panggil aku Cay"
Setelah mereka asyik berbincang-bincang, Cay minta John untuk berbaik hati mmemberika baju yang dipakainya itu, dan John memberikannya. Next, John bertanya kenapa Cay jadi masuk ke kamarnya, dan Cay pun menjawab "Kata ibuku si Singa..."
"Apa?!! Ibumu Singa?!!"
"Ssst! Ini ceritanya belum selesai tahu. Kata ibuku aku adalah seorang putri yang dulu kerajaannya hancur akibat perang, lalu aku dibawa oleh pelayanku dan...bla...bla...bla....bla(males nulisnya)bla...aku datang ke kota ini untuk mencari kristal salju"
John melongo sampe ada lalat yang mau masuk ke mulutnya tapi sempat disemprot Ba*g*n. "Apa katamu tadi? Kau seorang putri...."
"Yap begitulah, aku pun tidak tahu"
Terdiam sejenak "Pft...BWA...HA..HA..Pu...putri? Kau seorang putri? Hahaha lelucon yang bagus".
Cay pun langsung memukul dagu John sampe ada benjolan merah gitu. Yak itu bengkak namanya, semua orang juga tau kok.
"Jadi, apa kamu tau dimana letak kristal salju ini?" tanya Cay.
"Rasanya aku pernah mendengar rumor di sekolahku tentang kristal salju itu", kata John sambil menopang dagu.
"Apa rumornya?"
"Kata para gadis di kelasku, saat musim dingin dan bertepatan tanggal 20 Desember dan saat matahari terbit kita akan mengatakan keinginan kita di bawah tanah sekolahku. Disitu ada sebuah patung putri berbentuk es yang selalu dihujani salju, saat kita mengatakan keinginan kita di depan patung putri itu, kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan tadi."
"Jadi, saat aku ke ruang bawah tanah sekolahmu ketika tanggal 20 Desember dan saat matahari terbit aku akan mengucapkan keinginanku untuk mendapatkan kristal salju, pasti akan dikabulkan begitu?"
John mengangguk. "Kalau begitu besok kita datang pagi-pagi, kamu malam ini tidur di sofa dulu ya". "What? Bukannya aku seorang putri, masa' tidur di sofa?"
John menjawab dengan senyuman lebar "Kan kamu sudah terbiasa tidur di atas rerumputan, yah di sofa pun sudah untung"
"Ah...iya ya"
Dan mereka pun menyetujui itu. Aku mau protes, kenapa putri itu gak menyangkal lagi dengan sebagai seorang perempuan.
Paham nggak?
"KYAAA..."
Cayleen segera membungkam mulut pemuda itu dengan gumpalan tisu NI*E
"Ssst...diam! Berisik banget sih"
Pemuda itu menarik tisu yang bergumpal-gumpal itu dari mulutnya "Puueeh....puueeh...iyakh lengket di lidah nih tisunya"
Cayleen kebingungan dengan tingkah laku pemuda itu. Dan akhirnya Cayleen menanyakan nama pemuda itu "Hei, namamu siapa?"
"Hanggil haja akhu John"
"Kalau begitu panggil aku Cay"
Setelah mereka asyik berbincang-bincang, Cay minta John untuk berbaik hati mmemberika baju yang dipakainya itu, dan John memberikannya. Next, John bertanya kenapa Cay jadi masuk ke kamarnya, dan Cay pun menjawab "Kata ibuku si Singa..."
"Apa?!! Ibumu Singa?!!"
"Ssst! Ini ceritanya belum selesai tahu. Kata ibuku aku adalah seorang putri yang dulu kerajaannya hancur akibat perang, lalu aku dibawa oleh pelayanku dan...bla...bla...bla....bla(males nulisnya)bla...aku datang ke kota ini untuk mencari kristal salju"
John melongo sampe ada lalat yang mau masuk ke mulutnya tapi sempat disemprot Ba*g*n. "Apa katamu tadi? Kau seorang putri...."
"Yap begitulah, aku pun tidak tahu"
Terdiam sejenak "Pft...BWA...HA..HA..Pu...putri? Kau seorang putri? Hahaha lelucon yang bagus".
Cay pun langsung memukul dagu John sampe ada benjolan merah gitu. Yak itu bengkak namanya, semua orang juga tau kok.
"Jadi, apa kamu tau dimana letak kristal salju ini?" tanya Cay.
"Rasanya aku pernah mendengar rumor di sekolahku tentang kristal salju itu", kata John sambil menopang dagu.
"Apa rumornya?"
"Kata para gadis di kelasku, saat musim dingin dan bertepatan tanggal 20 Desember dan saat matahari terbit kita akan mengatakan keinginan kita di bawah tanah sekolahku. Disitu ada sebuah patung putri berbentuk es yang selalu dihujani salju, saat kita mengatakan keinginan kita di depan patung putri itu, kita akan mendapatkan apa yang kita inginkan tadi."
"Jadi, saat aku ke ruang bawah tanah sekolahmu ketika tanggal 20 Desember dan saat matahari terbit aku akan mengucapkan keinginanku untuk mendapatkan kristal salju, pasti akan dikabulkan begitu?"
John mengangguk. "Kalau begitu besok kita datang pagi-pagi, kamu malam ini tidur di sofa dulu ya". "What? Bukannya aku seorang putri, masa' tidur di sofa?"
John menjawab dengan senyuman lebar "Kan kamu sudah terbiasa tidur di atas rerumputan, yah di sofa pun sudah untung"
"Ah...iya ya"
Dan mereka pun menyetujui itu. Aku mau protes, kenapa putri itu gak menyangkal lagi dengan sebagai seorang perempuan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Paham nggak?
Kalau nggak, yuk kita lanjut aja.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Keesekokan harinya
John dan Cay bangun pagi-pagi dan bersiap untuk ke sekolah. Setelah sampai di sekolah, mereka melakukan apa yang sudah direncanakan tadi malam.
"Saya ingin mendapatkan kristal salju untuk menyembuhkan wabah penyakit yang menyerang hutan". Lalu, sebuah cahaya terang menerangi ruangan bawah tanah itu, dan muncullah sebuah kristal salju di dalam mahkota perak yang dipakaikan patung putri itu kepada Cay. Dan patung itu pun tertidur kembali.
"Yak masalah selesai sudah, aku harus kembali ke hutan. Terima kasih karena kamu sudah membantuku John"
"Ya, sama-sama, kapan-kapan kamu datang mengunjungiku lagi, aku akan traktir makan lo"
"Pasti"
~FIN~